Kreatif di Zaman Kompetitif Dalam era ekonomi gelombang baru yang ditandai dengan pengetahuan dan informasi sebagai tolak ukur keberhasilan, peran inovasi menjadi kunci sukses sebagai pengusaha. Melalui kreativitasnya, para pebisnis berlomba-lomba menghasilkan berbagai produk baru yang unik dan menarik minat konsumen. Banyaknya usaha baru yang muncul dalam waktu yang singkat kemudian menimbulkan pertanyaan, mampukah bisnis itu bertahan di antara para pesaing yang makin andal?
“Wanita telah terbukti mampu menjalankan peran ganda baik sebagai ibu, istri, bahkan tulang punggung keluarga,” papar Svida Alisjahbana, CEO Femina Group, yang membuka Seminar Wanita Wirausaha Bank Mandiri & Femina, Inspirasi Wirausaha Dunia Usaha Tanpa Batas di Denpasar, Bali, 29 Januari 2012. Karena itu, Svida percaya bahwa wanita memiliki potensi yang sangat besar untuk mencari berbagai alternatif solusi dari permasalahan yang sering muncul di industri kreatif.
Cerita, Jro, salah satu peserta seminar, bisa menjadi bukti apa yang menjadi keyakinan Svida. “Ketika usaha kebaya modern saya sedang menanjak, tiba-tiba hadir pesaing yang menjual kebaya dengan desain persis sama dengan harga yang lebih murah,” cerita Jro. Lalu, apa yang Jro lakukan? Bukannya kesal, ia justru kreatif menyiasatinya dengan memberikan jasa garansi seumur hidup untuk pembelian kebaya produksinya.
Di kota-kota besar yang terbuka bagi pendatang, memang menjadi wilayah yang efektif bagi perkembangan ekonomi kreatif. Siapa yang tidak mengakui potensi pariwisata Bali? Menurut Senior VP Bank Mandiri, Handayani, di Bali, sederet usaha kreatif tumbuh dan berkembang pesat di setiap sudut. Mulai dari kekayaan alam, benda seni, peninggalan historis, hingga cita rasa kuliner menjadikan Bali sebagai gerbang pertama pariwisata Indonesia.
Karena itu, keunikan produk, menurut konsultan industri kreatif, Yoris Sebastian, menjadi kata kunci dalam menghadapi gempuran variasi produk dari usaha yang sama. Dan jangan salah, ide kreatif itu bisa muncul dari hal-hal yang dekat dengan kita. Pemilik Bara Silver, Putu Sudi Adyani, misalnya. Ia berprofesi sebagai pemandu wisata, yang menjadikannya akrab dengan legenda Bali. Ia kemudian terinspirasi menciptakan perhiasan perak dengan desain tokoh pewayangan yang lekat dengan budaya Bali. Ia jeli mengamati, bahwa dalam benda seni, nilai lebih penting daripada kuantitasnya.
Setelah inovasi berhasil diwujudkan, yang penting dilakukan kemudian adalah membuat hak cipta atas produk kekayaan intelektual tersebut. Namun, yang harus disadari, tidak semua produk bisa dipatenkan. Untuk industri kreatif misalnya, mematenkan desain yang berbeda tiap produknya menjadi hal yang mustahil. Ari Juliano Gema, praktisi hukum dan konsultan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HKI), kemudian memberi jalan keluar dengan menyertakan logo nama produk sebagai bagian dari desain produk tersebut, seperti yang dilakukan oleh label terkemuka Louis Vuitton.
Lagi-lagi, karena kita sekarang ini hidup di dunia digital, penting bagi pengusaha untuk bisa memanfaatkan produk telekomunikasi untuk membantu kelancaran bisnis. Ibaratnya, sekali Anda menceburkan diri sebagai pengusaha, maka Anda harus siap kapan saja dihubungi oleh pelanggan atau stake holder-nya yang lain. Irlamsyah Syam, VP Corporate Account Management Telkomsel, mengatakan, fasilitas komunikasi yang efektif seperti ketersediaan domain e-mail perusahaan adalah salah satu jurus jitu untuk menjadi selangkah lebih maju dalam era informasi ekonomi gelombang baru ini.
Aulia Fitrisari