Kisah Sukses

Dari Krisis Muncul Spacio

 
“Semua berawal sejak krisis moneter 1998,” ujar Natali Nitirahardjo (40), menuturkan awal mula bisnisnya. Dulu, ia bekerja di sebuah kantor developer di Jakarta. Akibat krisis, karyawan dipaksa pensiun dini, termasuk dirinya. Untunglah, seorang teman kuliahnya mengajak berbisnis interior. “Meski kuliah saya di bidang arsitektur, hanya sedikit ilmu interior yang saya peroleh. Namun, pada dasarnya, saya sangat menyenangi bidang ini,” tutur Natali.
 
Natali memang punya hobi mengutak-atik ruangan. Di rumahnya di Jakarta, Natali merancang sendiri interiornya, mulai dari ruang tamu, kamar tidur, sampai dapur. Dulu, sebelum berbisnis, ia kerap mendapat komentar dari teman yang berkunjung. “Ini desainnya bagus dan pengerjaannya rapi banget. Kenapa, sih, kamu nggak buka usaha sendiri saja,” tuturnya menirukan komentar temannya.
 
Saat membuka bisnis interior di Jakarta, klien yang datang kebanyakan justru proyek perkantoran. Awal tahun 2007, adiknya, Juda Nitirahardjo, seorang insinyur sipil, mengajaknya membuka bisnis interior di Yogya. Saat itu, di Yogya bisnis interior ini masih terbilang jarang. Meski tak punya klien satu pun, ia optimistis. Dibukalah Spacio Living.
 
Modal awal Rp90 juta, ia gunakan untuk menyewa showroom seluas 12x8 meter di kawasan Jl. Pandega Karya selama 3 tahun. Itu sudah termasuk untuk pembuatan desain sampel unit furnitur, antara lain ruang duduk, sofa, meja makan, kamar tidur utama, kamar anak, dan dapur. Kliennya ya, orang yang datang melihat ke showroom.
 
“Saya tidak menjual furnitur. Saya hanya membuat berdasarkan pesanan. Orang memesan belum tentu karena ia suka desainnya. Bisa juga karena mereka melihat kualitas produk, teknik sambungan, dan pemilihan material yang dipakai,” tutur Natali. Soal desain, ia menyesuaikan keinginan klien. Tidak jarang, kliennya datang membawa contoh dari majalah, bisa juga sudah punya desain dari konsultan interior lain, tetapi minta dibuatkan di workshop-nya. “Untuk gambar dari majalah atau internet, tetap perlu adaptasi. Saya harus lihat dulu rumah dan ruangannya.”
 
Karena modalnya pas-pasan, mengenai cara pembayaran, Natali punya strategi. Pembayaran ia bagi menjadi beberapa termin. “Sebelum pengerjaan, tentu harus ada uang muka. Di tengah-tengah pengerjaan, dilakukan pembayaran termin kedua. Dengan cara ini saya tidak perlu nombok terlalu banyak.”
 
Ia mematok harga per meter persegi antara Rp1,7 juta hingga Rp2 jutaan. Patokan ini untuk memudahkan ancang-ancang bujet saja. Untuk desain, ia tidak meminta tarif. Mahal atau murahnya suatu pekerjaan ditentukan oleh pemilihan bahan yang diinginkan klien. Natali mengaku tak main-main dalam hal kualitas. Untuk itu ia belanja sendiri bahan-bahannya. Ia tak pernah mengurangi bujet untuk membeli bahan dasar. Para teknisi juga sering dikontrol. “Walaupun mereka sudah pintar, saya tidak boleh lengah.”
 
Selain furnitur, Natali juga menerima pengerjaan kain sofa, gorden, dan pernik interior lain. “Pernik interior biasanya hanya sebagai elemen pelengkap, fokus utama tetap di furnitur,” katanya.
 
Walaupun bisnis interior tidak sedang booming, Natali mengaku tidak pernah sepi order. Tiap bulan ia bisa mendapat 6 klien, dari yang baru minta dibuatkan desain, sampai yang tahap pengerjaan. Normalnya, untuk pengerjaan satu rumah bisa selesai dalam waktu 1-2 bulan. Kalau ada pengerjaan dalam waktu bersamaan, ia tinggal menugaskan kelompok tukang yang lain.
 
Sekarang ini, Natali tak hanya melayani pesanan dari Yogya dan sekitarnya, tetapi juga dari Jakarta, Bogor, bahkan Manado. “Mereka tahu tentang saya dari pertemanan.” Natali berani menerima pesanan jarak jauh karena setiap pengerjaan furnitur diselesaikan di workshop-nya di Yogya. Di lokasi klien tinggal pengukuran dan pemasangannya saja.
 
Tantangan di bisnis ini, menurut Natali, adalah harus siap antisipasi menghadapi protes. Klien rumah tinggal tingkat protesnya lebih tinggi. “Kalau ia tidak puas, bisa-bisa barang dikembalikan,” ujarnya. Pengerjaan bisa bolak-balik sampai klien senang. Padahal, memperbaiki bisa lebih susah dari membuatnya. Natali berkisah, ia pernah menghadapi klien yang rewel, walaupun sudah dibuatkan sesuai dengan gambar yang disepakati, masih saja protes. Ke depan, ia mengantisipasi hal itu dengan membuat gambar sesempurna mungkin. “Dari perspektif, ukuran, sampai skala,” tutur lulusan arsitektur dari Universitas Atmajaya, Yogyakarta, ini.
 
Di awal bisnis, Natali pernah mengalami beberapa kali proyek rugi. Ia pernah mematok tarif murah, karena menganggap biaya sudah tertutup dari dana yang ada. Tetapi belakangan klien yang bersangkutan bolak-balik minta perbaikan. Karena yang dirombak cukup banyak, Natali sampai nombok 10 persen dari nilai proyek. Sekarang, ia sudah membuat perhitungan dengan cermat, jadi tak perlu cemas bakal nombok lagi. Dan, bicara soal keuntungan, laba bisnisnya cukup lumayan. Dalam waktu satu setengah tahun, modal awal Natali sudah kembali.
 
 
Tip dari Natali:
• Punya hobi mendesain interior ruang akan menjadi nilai plus kalau terjun di bisnis ini
• Tahan banting. Tanggapi keluhan klien dengan bijak dan beri solusinya
• Modal awal tak harus besar, asal bisa untuk sewa tempat showroom dan untuk memamerkan desain furnitur
• Jeli memilih teknisi yang bagus dan bisa dipercaya.
 
Bookmark and Share
Kirim ke Teman
Nama
Email

Pesan
200 karakter tersedia
* Jika Anda telah login, maka email akan terkirim dengan nama Anda
Bookmark and Share



Login  

Email
Password
1  2  3  4  


Acara &  
Agenda  

Wanwir Masterclass: Fashion Trend Forecast
Khusus untuk wanwir di bidang fashion, beauty, dan craft!
Femina Award 2014
Beragam produk unggulan wanita wirausaha di pameran Inacraft pilihan tim editor Femina.
Business Trip Surabaya
Khusus para wanita wirausaha! Sharing ilmu bisnis dengan pemilik usaha sukses dan factory visit.
Booth Festival Wanita Wirausaha 2013
80 Booth dari Wanita Wirausaha terpilih ada di Festival Wanita Wirausaha 2013!