Kisah Sukses

Harumnya Rezeki Kedai Kopi (1)

 
Secangkir kopi memang ideal untuk diseruput kapan saja. Entah untuk ‘suntikan’ energi di pagi hari, membuang rasa enek setelah makan siang, atau hangout bersama teman sepulang kerja. Ngopi dan duduk-duduk santai di kedai juga telah menjadi kebutuhan warga kota besar. Kepopuleran gaya hidup ini membuat empat pengusaha jatuh cinta dan memutuskan membangun kedai kopi.
 
Yani Tambing (38), Toraya Coffee
MEMILIH KOPI KAMPUNG HALAMAN
Antusiasme yang tinggi masyarakat kota besar dalam mengonsumsi kopi membuat Yani, pada 2004, berani melepaskan status karyawan dan memutar haluan menjadi pengusaha kedai kopi. Soalnya, ia melihat kedai-kedai kopi franchise asing yang baru dibuka di Jakarta, seperti Starbucks dan Coffee Bean, langsung dipadati pembeli, padahal harganya tak bisa dibilang murah. “Saya berpikir, kopi di kedai-kedai franchise ini kebanyakan asalnya dari petani Indonesia. Kenapa nggak sekalian saya membuat kedai kopi sendiri? Saya pasti bisa,” ungkapnya, optimistis.
 
Ibu satu anak asal Makassar ini lantas teringat kebiasaan di kampung halamannya. Para pria dan wanita di sana menikmati kopi sebagai teman mengonsumsi makanan utama, bahkan meminumnya hingga tiga kali sehari. Pasalnya, kopi Toraja, yang termasuk jenis kopi arabika, tak diragukan lagi kualitas rasanya. Terinspirasi kenikmatan kopi kampung halamannya, membuat Yani terpacu membuka kedai kopi khusus racikan biji kopi Toraja di Jakarta.
 
Modal awal Yani tak terlalu banyak, yaitu sekitar Rp100 juta. Ia menyewa kios dekat foodcourt salah satu mal kelas menengah, di daerah bisnis Jakarta Selatan. Ia membidik pekerja kantoran di daerah tersebut sebagai targetnya. Sebagian besar modal ia gunakan untuk membeli mesin kopi kualitas menengah yang diimpor dari Italia. Saat itu, harganya sekitar Rp30 juta. “Mesin yang saya beli bukan yang paling mahal, namun sangat layak untuk operasi jangka panjang. Hasil racikan mesin ini juga tergolong baik,” jelasnya.
 
Setelah membekali diri dengan ilmu meracik kopi lewat beberapa kali bereksperimen, Yani merasa puas dengan kualitas rasa kopi hasil tangannya. Setelah itu, ia langsung membesarkan langkah dengan merekrut barista (peracik minuman kopi) dan waitress. Agar mendapat biji kopi kualitas terbaik, Yani juga turun tangan langsung. Secara reguler ia terbang ke Makassar untuk bertemu dan negosiasi harga dengan petani kopi, sekaligus menyiapkan pengiriman biji kopi secara berkala.
 
“Saya sengaja merekrut barista yang sudah punya pengalaman kerja di kedai kopi. Prioritas saya, mereka yang pernah bekerja di kopi franchise asing dan pernah diberi pelatihan. Karena lulusan training, biasanya mereka sudah siap pakai,” kata Yani. Selain itu, Yani juga senang mengetes calon karyawan lewat kreativitas mereka menyajikan secangkir kopi.
 
Awalnya, Yani mengaku kesulitan menarik pembeli. Maklum, nama Toraya masih asing. Tak putus asa, ia melancarkan strategi ‘jemput bola’ dengan membagi-bagikan kopi gratis kepada pengunjung mal. Benar saja, tak sampai dua minggu, kedainya mulai ramai dikunjungi. Kebanyakan memesan cappuccino dan coffee latte.
 
Kesuksesan itu membuat Yani bertekad meluaskan bisnisnya dengan membuka dua kedai baru di gedung perkantoran. Sayang, setelah berjalan beberapa waktu, Yani merasa biaya sewa di salah satu gedung terlalu tinggi, dan tak menutup biaya operasional. Di waktu yang sama, pemilik kios untuk kedainya yang di mal, tak mau memperpanjang kontrak. Akibatnya, dua kedai terpaksa ia tutup.
 
Yani lantas memusatkan perhatian pada satu kedai yang ada, di gedung perkantoran Sentra Mulia, Kuningan, Jakarta. Bisnis berjalan cukup lancar. Rupanya, walau gedung penuh dengan kantor-kantor penyewa, karyawan tak punya tempat untuk nongkrong. Jadilah Toraya menjadi pusat makan dan minum, sehingga selalu penuh pengunjung.
 
Menangkap peluang ini, Yani menggaji chef untuk menyajikan berbagai menu makanan. Bukan hanya appetizer, tapi juga sup, salad, sandwich, omelet, pasta dan mi, sampai pancake sebagai dessert. Meski tempatnya tak luas, Toraya terasa nyaman, ditunjang interior dengan suasana rumahan dan tradisi masyarakat Toraja. “Sebenarnya, saya lebih suka ruangan dibuat non-smoking, karena aroma kopi selalu tercemar jika ada aroma rokok. Tapi, karena lokasinya bersebelahan dengan gedung parkir, tak mungkin membuat tempat duduk luar ruangan bagi para perokok,” katanya.
 
Ine Lubis (41), Popi’s Deli & Coffee
PUAS DENGAN SKALA KECIL
Di antara menjamurnya kedai kopi di Jakarta, Popi’s adalah contoh kedai kopi low profile. Letaknya tak mencolok, berada di jalan satu arah di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Membidik orang kantoran, kedai kopi yang luasnya 200 m² ini cukup ramai dikunjungi dari pagi hingga sore. Jumlah pengunjung mencapai 80 orang. “Kami serius menjalaninya, tapi juga tak mau mematok target untuk ekspansi besar-besaran,” kata Ine.
 
Pada tahun 2004 dulu, Ine dan Emir Riza, suaminya, tertantang memanfaatkan peluang di daerah Menteng tersebut. Pasalnya, di daerah itu ramai warung makanan, tapi minim kedai kopi. Untuk membangun bisnisnya, pasangan yang dari ‘sono’-nya sudah gemar minum kopi ini rajin melakukan riset meracik kopi dari membaca buku, bertanya pada teman, sampai mendatangi kedai-kedai kopi yang sudah sukses.
 
Berbeda dari Toraya, Popi’s fokus pada kopi impor kelas sedang. Dari jenis-jenis kopi yang ditawarkan distributor kopi impor di Jakarta, Ine menemukan kecocokan pada salah satunya. “Harganya tidak mahal, rasanya cocok dengan lidah masyarakat Indonesia,” ungkapnya. Ine pun menjual kopinya murah meriah, hanya antara Rp14.000 sampai Rp18.000 per cangkir.
 
Langkah selanjutnya, Ine menyiapkan sendiri desain interior kedainya. “Sebenarnya, kalau menggaji desainer, hasilnya bisa lebih bagus. Tapi, saya berusaha memangkas cost,” kata wanita yang mematok modal Rp200 juta untuk pembangunan keseluruhan kedai kopinya ini. Dengan dana yang ada, Ine mendekor dinding kafe dengan rak yang diisi kaleng-kaleng kemasan selai unik. Ia mengisi ruangan dengan sejumlah sofa, kursi dan meja kafe, melapisi lantai salah satu ruang dengan kayu, sehingga suasana natural dan homy terasa kental.
 
“Interior itu penting. Soalnya, kopi yang dijual dengan suasana standar foodcourt, tak bisa sesukses kedai kopi nyaman. Dalam bisnis ini, selain rasa, atmosfer kedai kopi juga memegang peranan penting. Tamu datang ingin menikmati kopi sambil relaks, tak sekadar karena haus dan ingin membeli minum,” jelas Ine.
 
Dalam merekrut pegawai, Ine sangat memperhatikan kepribadian calon karyawan. “Setiap hari kami terus mendampingi karyawan. Terjun langsung di kedai itu penting, karena bisnis ini benar-benar menjual jasa,“ ujarnya, mantap. Training berkala bagi para staf pun ia lakukan, bekerja sama dengan pihak distributor kopi. Tidak seperti waitress yang ia rekrut dengan cara memasang iklan lowongan pekerjaan, untuk chef, demi menjaga kualitas, Ine hanya percaya rekomendasi dari temannya yang sesama pengusaha resto dan kafe.
 
Sudahkah Ine puas dengan kedai kopi mungilnya? “Terus terang, ada keinginan bikin kedai kopi fancy. Tapi, karena kondisi krisis keuangan global, kami tak yakin suntikan dana besar akan menutup dari sisi pemasukan,” kata Ine. Meski kedai ini bukan sumber pemasukan utama bagi Ine dan Emir, mereka mengaku rezeki yang didapat lumayan. (AHW) – bersambung.
 
Bookmark and Share
Kirim ke Teman
Nama
Email

Pesan
200 karakter tersedia
* Jika Anda telah login, maka email akan terkirim dengan nama Anda
Bookmark and Share



Login  

Email
Password
1  2  3  4  


Acara &  
Agenda  

Business Trip Surabaya
Khusus para wanita wirausaha! Sharing ilmu bisnis dengan pemilik usaha sukses dan factory visit.
Booth Festival Wanita Wirausaha 2013
80 Booth dari Wanita Wirausaha terpilih ada di Festival Wanita Wirausaha 2013!
Festival Wanita Wirausaha 2013
Perkaya wawasan wirausaha Anda lewat kelas-kelas inspiratif yang ada di Festival Wanwir 2013!