Kisah Sukses

Yuliana Lim (33), Chameo Couture: Branded Bag 100% Indonesia

Adagium bisnis yang mengatakan, jeli menetapkan target pasar ibarat telah menapakkan kaki di pintu sukses, ternyata terus mendapatkan pembuktian. Setidaknya, inilah yang dirasakan oleh wanita pebisnis tas ini. 

Daya beli masyarakat yang terus meningkat yang disertai kesadaran untuk tampil fashionable, membuka ceruk pasar yang menjanjikan. Tapi, mereka mengakui, manisnya peluang itu bisa menjadi fatamorgana bila tidak cermat membidik segmen pasar yang spesifik. 

Yuliana Lim (33), Chameo Couture
Branded Bag 100% Indonesia

Peluang Manis Tas Mahal
Keunikan tas anyaman produksi perajin di Yogyakarta menginspirasi saya untuk membuat tas anyaman dengan desain yang lebih stylish dan modern untuk dipakai sehari-hari. Sebagai pencinta tas, saya paham,  banyak wanita yang rela membayar mahal untuk sebuah designer handbag. 

Di sisi lain, saya juga melihat, apresiasi konsumen terhadap produk fashion lokal, terutama yang menonjolkan budaya Indonesia, kini meningkat pesat. Sayangnya, produk-produk yang ada di pasar masih terlalu kuat karakter etniknya sehingga sulit bersaing di pasar global dengan brand asing yang sudah well-established. 

Saya pun melihat ada peluang bisnis yang baik. Kebetulan, suami saya sudah terlebih dahulu menggeluti bisnis furniture berbahan rotan plastik. Bersama suami, saya menggodok ide untuk memproduksi tas dari anyaman rotan yang mengikuti tren fashion global, namun tetap mengusung kekayaan budaya Indonesia dengan label Chameo Couture. 

Kata Couture saya gandengkan dengan nama Chameo untuk menegaskan positioning brand ini sebagai branded bags yang ditujukan untuk kalangan menengah ke atas. Untuk itu, saya juga tidak mau main-main dengan desain dan kualitas. Karakter bahan rotan plastik yang lentur memungkinkan saya membuat kreasi tas anyaman yang lebih modern dan mudah dipadu-padankan dengan bahan kain atau kulit. Kelebihan lain, bahan ini juga mudah dibersihkan. Anyaman juga dijahit lagi agar lebih kuat dan tahan lama. Dengan harga antara Rp700.000 – Rp1 juta-an, saya ingin konsumen mendapatkan kualitas yang sepadan. 

Teknik pembuatan tas ini saya peroleh berkat riset dan pengembangan yang dilakukan terus-menerus sejak hari pertama Chameo Couture diproduksi, awal tahun 2008. Saya dan suami yang menciptakan desain dengan mengacu pada tren mode di Eropa. Bermodalkan intuisi dan pemahaman akan selera pasar, kami memilih tren-tren yang sesuai untuk kami adopsi. 

Kolaborasi dengan Desainer
Semula kami memercayakan produksi kepada perajin-perajin di Yogyakarta. Keuntungannya, kami tidak perlu berinvestasi pada sumber daya manusia dan peralatan. Namun, cara ini juga memiliki kekurangan, yaitu sulit menjaga standar kualitas dan tidak bebas berinovasi. Padahal, kualitas dan kreasi merupakan faktor penting dalam pembentukan brand image Chameo Couture sebagai branded bags. 
Sebagai solusi, saya membuat workshop sendiri pada pertengahan tahun 2008. Saat itu saya mulai dengan satu penjahit dan satu mesin jahit. Sekarang saya sudah memiliki 10 penjahit.

Untuk pemasaran, awalnya saya membuka toko di FX Plaza, Jakarta. Tapi, seiring waktu berjalan, saya memilih untuk menutup toko itu dan menjalin kerja sama dengan beberapa department store terkemuka di beberapa kota, seperti Pasaraya, Sogo, Metro, dan Alun-Alun Indonesia. Cara ini membuat akses pemasaran menjadi lebih luas dan positioning Chameo Couture makin kuat karena mampu menembus department store tersebut.

Untuk memperkenalkan Chameo Couture ke kalangan yang lebih luas, saya rajin mengikuti berbagai pameran, termasuk festival Wanita Wirausaha Femina 2012. Tidak hanya bisa menaikkan angka penjualan, pameran juga membuka pintu perkenalan dengan pihak pemerintah yang biasanya punya program pameran di luar negeri. Ini sarana promosi yang sangat baik.

Tahun 2009, Chameo Couture diajak pemerintah untuk mengisi salah satu booth Indonesia di Hong Kong Fashion Week. Tahun lalu, Chameo Couture terpilih menjadi salah satu wakil ASEAN di pameran Remarkably ASEAN di Tokyo dan Osaka. Positioning sebagai branded bags juga kami perkuat dengan berkolaborasi dengan fashion designer. Karena itu, saya antusias sekali ketika desainer busana muslim, Monica Jufry, mengajak berkolaborasi untuk show-nya di Jakarta Fashion Week 2013 beberapa waktu lalu.

Dengan kapital yang terbatas, promosi dan branding adalah prioritas utama saya. Karena itu, saya selalu mencari cara branding dan promosi yang seefektif mungkin. Saya juga tidak ragu mengalokasikan dana untuk membuat iklan dengan agensi periklanan berpengalaman dan memasang iklan di majalah mode dan gaya hidup. Ini adalah konsekuensi ketika saya memosisikan Chameo Couture sebagai branded items yang sejajar dengan brand-brand ternama dari luar negeri. Brand positioning ini yang menentukan koridor saya dalam berbisnis. 

Banyak orang beranggapan, orang Indonesia tidak mau membayar mahal untuk produk lokal. Anggapan tersebut terbukti salah. Meski sekarang Chameo Couture sudah diekspor ke Singapura, Australia, Amerika, Jepang, dan Finlandia, angka penjualan tertinggi adalah dari pasar dalam negeri. Hasil pengamatan sales promotion girl saya di Bali juga membuktikan bahwa orang Indonesia tidak ragu untuk membeli produk dengan harga normal, sementara turis asing lebih senang membeli produk diskon.

Modal: Rp150 juta
Kapasitas produksi: 200-500 tas/bulan
Pemasaran: Department store, ekspor (Singapura, Jepang, Australia, Amerika, dan Finlandia), dan online (Facebook dan online store)

EKA, RFF

Bookmark and Share
Kirim ke Teman
Nama
Email

Pesan
200 karakter tersedia
* Jika Anda telah login, maka email akan terkirim dengan nama Anda
Bookmark and Share



Login  

Email
Password
1  2  3  4  


Acara &  
Agenda  

Business Trip Surabaya
Khusus para wanita wirausaha! Sharing ilmu bisnis dengan pemilik usaha sukses dan factory visit.
Booth Festival Wanita Wirausaha 2013
80 Booth dari Wanita Wirausaha terpilih ada di Festival Wanita Wirausaha 2013!
Festival Wanita Wirausaha 2013
Perkaya wawasan wirausaha Anda lewat kelas-kelas inspiratif yang ada di Festival Wanwir 2013!