Kisah Sukses

Gerak Cepat Lianna Gunawan


Tak pernah terpikir di benak Lianna Gunawan (34), Pemenang II Lomba Wanita Wirausaha Femina dan Mandiri 2012, untuk menjadi seorang wirausaha. Usai melahirkan, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya untuk fokus menjadi ibu rumah tangga. Tapi, kecintaannya pada sepatu membawa wanita kelahiran Semarang itu iseng menggeluti bisnis sepatu.

Siapa sangka, keisengannya itu berbuah manis. Tanpa perlu menunggu lama, koleksi alas kaki berbahan kain tradisional Indonesia yang ia beri label La Spina mencuri perhatian konsumen. La Spina bahkan sudah berhasil menembus pasar Jepang yang terkenal ketat mengenai kualitas barang.

Merambah Pasar Global
Smartphone tak lepas dari genggamannya. Sesekali ia meminta izin untuk menerima telepon dan membalas pesan di tengah wawancara. Wajar saja, sebab saat itu Lianna sedang mengurusi segala persiapan ke Tokyo, Jepang, untuk mengikuti pameran yang bertajuk International Variety Gift Expo pada 4-6 Juli 2012. “Bangga sekali rasanya bisa dikirim ke sana. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini,” ungkap Lianna, semangat.

Ini bukan pertama kalinya Lianna membawa La Spina ke Negeri Sakura. Sebelumnya, Oktober 2011, ia telah memperkenalkan sepatu-sepatu cantik karyanya kepada masyarakat Jepang lewat Osaka International Gift Show 2011.
Kesempatan pameran di Jepang itu tak ia dapatkan dengan mudah. Lianna harus bersaing dengan puluhan UKM Indonesia yang tak kalah hebat untuk mewakili Indonesia. “Kami dinilai langsung oleh tim khusus dari Jepang. Mereka tidak hanya mencari desain yang menarik, tapi juga kualitas barang yang terjamin,” jelas Lianna. Tim penilai datang ke workshop untuk melihat proses produksi. “Mereka melihat segala sesuatu dengan sangat detail, termasuk masalah benang dan perekat,” cerita Lianna.

Beruntung, La Spina yang memberi garansi pada semua sepatunya berhasil terpilih bersama dua UKM lain. La Spina pun melangkahkan kaki ke luar dari Indonesia untuk pertama kalinya. “Padahal, saat itu saya belum terpikir sama sekali untuk membawa La Spina ke luar negeri. Waktu itu kan usaha saya baru berjalan enam bulan,” kata Lianna, mengingat momen-momen bersejarah dalam bisnisnya itu.

Sebelum berangkat, Lianna mengaku sempat tidak percaya diri. “Memasarkan sepatu dengan motif kain tradisional di Indonesia saja tidak mudah, apalagi di Jepang?” pikirnya saat itu. Tapi ternyata, ketakutan Lianna tidak terjadi. Justru, La Spina mendapat respons positif dari warga Jepang. Sekitar empat puluh pasang sepatu yang ia bawa habis terjual. Ia pun mendapat beberapa buyer yang tertarik memasarkan La Spina di Jepang. Kini, setiap bulan ia mengekspor sekitar 150 pasang sepatu ke sana.

Batik Tak Selalu Kuno
Keberhasilan bisnis sepatu Lianna yang cukup cepat hanya berawal dari coba-coba. Setelah memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh sendiri putrinya pada tahun 2009, Lianna sulit keluar rumah. “Saya jadi sering browsing untuk membeli sepatu secara online,” cerita Lianna, yang memang ‘kolektor’ sepatu itu.

Dari sana, wanita berkulit putih ini menemukan toko-toko online yang menjual sepatu sesuai pesanan pembeli. “Ada satu toko online yang menarik perhatian dan saya langsung memesan,” ujar lulusan Jurusan Services Marketing - Tourism & Hospitality University of New South Wales, Sydney, Australia, ini. Sayangnya, sepatu yang sampai di tangannya tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Bukannya kapok, Lianna malah penasaran. Ia pun coba menjelajah beberapa toko online lain hingga akhirnya menemukan toko yang produk sepatunya sesuai seleranya.

Ketika memakai sepatu pesanan itu, tidak sedikit teman Lianna yang suka. Bahkan, ada yang rela membeli sepatu Lianna yang sudah pernah ia pakai. Lianna pun berpikir untuk coba-coba menjadi reseller. “Mengapa tidak? Tinggal pajang foto sepatu di Facebook dan terima pesanan,” pikirnya saat itu.

Ternyata, menjalankan bisnis kecil-kecilan seperti itu tidak mudah. “Membuat sepatu membutuhkan akurasi yang sangat tinggi. Beda beberapa milimeter saja bisa membuat kaki tidak nyaman,” kata Lianna. Bukannya memetik untung, Lianna malah rugi. “Banyak pembeli yang komplain. Kok, kegedean? Kok, warnanya gini? Sedangkan yang membuat sepatu tidak mau tahu. Akhirnya saya memperbaiki pesanan pembeli dengan uang saya sendiri,” lanjutnya.

Tidak mau lagi mendapat cacian dari pembeli, Lianna memutuskan berhenti menjadi reseller dan memberanikan diri membuat bisnis sepatu sendiri. Ia pun mulai bergerilya mencari tukang sepatu. Ia berharap bisa mengawasi dan mengoreksi bila ada kesalahan. Masalah selesai? Belum. Sistem pesanan yang sangat personal membuat Lianna tak bisa meraih keuntungan.

“Bahan menumpuk. Hari ini ada yang mau warna oranye, besok-besok tidak ada lagi. Padahal, saya beli bahan tidak sedikit,” cerita Lianna. Ia juga mulai merasa tidak nyaman karena desain sepatunya tak punya ciri khas, hanya menyontek model lain seperti keinginan pembeli.

Kebetulan, saat itu pemerintah sedang gencar menggalakkan berbagai program cinta Indonesia, termasuk Hari Batik. Walau Lianna tidak terlalu suka pada batik, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya mendukung program tersebut. Ide menggunakan kain batik pada sepatu pun muncul. “Batik yang digunakan tidak banyak, tapi tetap bisa menunjukkan kecintaan saya pada Indonesia,” ungkap Lianna.

Wanita yang mengoleksi ratusan sepatu ini pun mulai memproduksi sepatu dengan sentuhan batik. Awalnya, ia sengaja menggunakan batik Garut yang berwarna cerah agar sepatu yang dihasilkan terlihat modern. “Saya ingin menunjukkan bahwa batik tidak selalu terlihat kuno. Jika dipadu dengan sepatu bergaya modern, bisa menghasilkan sepatu yang trendi,” tuturnya.

Kini, ia tidak hanya menggunakan batik. Kain-kain tradisional Indonesia, seperti sutra Minahasa, ulos, songket Palembang, serta tenun Sulawesi pun ia aplikasikan pada wedges, sepatu datar, hingga sepatu anak-anak. “Indonesia in every step. Itulah tujuan utama saya. Saya ingin melestarikan sekaligus mempromosikan kain-kain tradisional Indonesia lewat sepatu yang bisa melangkah ke mana saja,” kata Lianna, tegas.

Pantang Menyerah
Kesuksesan La Spina yang begitu cepat tidak didapatkan Lianna dengan mudah. Hambatan demi hambatan menghampiri langkahnya. Di awal, ia sempat kesulitan mengaplikasikan batik pada permukaan sepatu. “Berbagai masalah datang, mulai dari lem merembes, motif kanan dan kiri berbeda, hingga kain berkeriput. Kami membutuhkan waktu kurang lebih enam bulan untuk melakukan uji coba hingga mendapatkan hasil yang sesuai,” cerita Lianna.

Begitu juga saat ia ingin memasarkan produknya untuk pertama kali lewat pameran Inacraft pada April 2011. La Spina kembali menghadapi masalah karena kehabisan stan. Namun, ibu dari seorang putri ini tak kehabisan akal. Demi turut serta dalam pameran kerajinan terbesar di Indonesia itu, Lianna mengikutkan La Spina pada seleksi yang diadakan Kementerian Perdagangan.

Lagi-lagi, wanita berpembawaan ramah ini harus menerima kenyataan pahit. La Spina dinyatakan tidak lolos. “Saya sangat sedih. Saya bingung mau berbuat apa pada ratusan sepatu yang sudah kami produksi,” tutur Lianna, mengingat masa-masa sulitnya itu.

Tak disangka, berita baik datang tepat tiga hari sebelum Inacraft 2011 berlangsung. Kementerian Perdagangan menghubungi Lianna untuk menawarkan sebuah stan karena salah satu UKM yang lolos seleksi mengundurkan diri. “Tanpa berpikir panjang saya langsung menerima tawaran tersebut,” ungkap Lianna. Karena waktu persiapannya mepet, berbagai cara ia lakukan demi mengikuti pameran tersebut. Bahkan, wanita berdarah Sunda-Jawa ini rela tidak tidur demi mempersiapkan semua hal, mulai dari rak, banner, hingga brosur.

Kerja keras Lianna tidak sia-sia. Walau tampilan stannya sangat biasa, La Spina mendapat respons yang luar biasa. Hari ketiga pameran, semua sepatu La Spina habis terjual!  “Padahal, tadinya saya sudah down dan hanya bisa menangis karena tidak lolos seleksi,” kenang Lianna, yang baru-baru ini menjadi 1 dari 3 finalis dari Asia dalam Cartier Women’s International Award 2012.

Sejak saat itu, tawaran mengikuti pameran datang silih berganti. Nama La Spina pun langsung meroket seiring makin banyaknya media yang menyoroti keunikan produknya. Dengan modal awal Rp10 juta, kini Lianna bisa meraup keuntungan hingga ratusan juta per bulan! “Rasanya seperti mimpi. Semua berjalan begitu cepat,” ujar wanita yang juga memasarkan produknya lewat situs www.laspinacollections.com, ini sambil tersenyum.

Saat ditanya apa yang membuatnya bisa sukses seperti sekarang ini, dengan tegas Lianna menjawab, “Kerja keras.” Ia menambahkan, “Kesuksesan tanpa kerja keras itu tidak mungkin. Seandainya saya mudah menyerah, mungkin saya tidak akan seperti ini.“

Demi membesarkan bisnisnya ini, ia mengaku tidak masalah harus kehilangan waktu berlibur atau sekadar menikmati me time dalam setahun ini. “Saya sadar, awal membangun bisnis itu tidak mudah, butuh perhatian dan usaha yang sangat besar. Beruntung, saya memiliki keluarga yang sangat mengerti dan mendukung saya,” ungkap istri Hendra Gunawan ini.

Kini, walau sedang berada di atas angin, Lianna tak ingin tinggal diam. Ia sadar tantangan baru menunggunya. “Setelah menanjak dengan cepat, sekarang saya menghadapi tantangan lain, yakni mempertahankannya. Saya tidak boleh cepat puas dan bekerja lebih keras. Kuncinya ada pada inovasi,” kata Lianna, optimistis. (Djamilah)

Bookmark and Share
Kirim ke Teman
Nama
Email

Pesan
200 karakter tersedia
* Jika Anda telah login, maka email akan terkirim dengan nama Anda
Bookmark and Share



Login  

Email
Password
1  2  3  4  5  


Acara &  
Agenda  

Femina Fashion Entrepreneur Award
Menangkan short course in fashion business di Istituto Marangoni, London!
WanWir Masterclass: Marketing Your Culinary Product
Pelaku wirausaha bidang kuliner, perlu ikut workshop ini!