FLO, Ide yang Tak Pernah Habis (1) 
Terjun di bidang yang lebih banyak digeluti pria tak membuat langkah Anastassia Florine Limasnax (31) surut. Modal awal E-Motion Entertainment yang ia jalankan adalah passion. “Saya menyukai dunia entertainment, terutama musik. Buat saya, dunia ini sangat menyenangkan dan tidak terlalu banyak effort dalam menjalankannya,” tutur Flo, tanpa memikirkan kompetisi dengan perusahaan besar yang bergerak di bidang serupa.
Flo berbeda karena dialah yang pertama kali menyediakan one stop service. Mulai dari music label, publishing, manajemen artis, hingga distribusi. Flo berusaha selalu punya ide kreatif, karena merasa tak pernah puas. “Kalau orang lain melakukan A, saya berusaha melakukan yang lain. Walaupun, saya tidak bisa melakukan semuanya lebih dari rata-rata. Tapi, kalau saya melakukan apa yang dilakukan orang lain, ada rasa malu. Saya pikir, kalau kayak gini aja, semua orang bisa. Lalu, apa yang bisa saya banggakan? Kami hanya menjadi salah satu dari banyak pilihan yang tersedia. Kalau bisa melakukan sesuatu yang lebih, dengan detail kecil, itu bisa dibanggakan,” tutur Flo, yang hanya punya satu ketakutan: rugi.
Sebelum menerapkan satu ide, Flo melakukan riset sederhana. Ada pertanyaan yang ia ajukan pada diri sendiri dan timnya: kalau ini bukan produk kita, kamu mau beli nggak? “Kalau jawabannya tidak, kami tidak akan jual. Intinya, kalau kami sendiri saja tidak mau beli, ngapain kami bikin? Saya tidak pakai teori yang besar, hanya common sense,” cerita Flo, yang merasa energinya seolah tak pernah surut pada 5 tahun pertama berbisnis.
Ide kreatif Flo tak pernah habis. Jika pengusaha lain mungkin baru akan menuangkan ide barunya setiap tahun, Flo bisa setiap bulan. Idenya sampai harus direm, karena orang lain susah mengikuti. “Masih banyak ide yang saya simpan. Satu per satu, deh. Itu pun belum tentu terjadi. Karena, tetap saja perlu proses. Ide, sih, tidak pernah kehabisan. Tapi, mengimplementasikannya kan tidak semudah itu,” katanya.
Saat-saat ini diakui Flo sebagai masa tersulit. Penjualan RBT (ring back tone) yang sempat naik daun, tiba-tiba mandek, karena adanya kasus pencurian pulsa. Dalam hitungan hari, bisnis RBT mendadak runtuh. “Kami shocked, tapi harus bergerak cepat. Ada beberapa ide baru yang sudah dijalankan, tapi masih belum dirilis. Jadi, belum bisa saya share, ya,” tutur Flo, yang tak khawatir jika idenya ditiru orang. Menurutnya, satu ide yang sama, jika dijalankan oleh 5 orang berbeda, hasilnya tetap akan berbeda.
(f)